Pertimbangan Moral Kristiani terhadap Penggunaan Kondom

kondom

Bayi Rachael: Selamat karena Pelukan

Carolyn Isbister menderita infeksi rahim sewaktu ia hamil 24 minggu. Kekhawatiran para dokter mengenai kelahiran tidak cukup bulan menjadi kenyataan ketika ia melahirkan bayi perempuan yang belum sempurna dengan berat badan 567 gram (20 ounce). Jantung bayi Rakhel berdetak hanya sekali setiap 10 detik, ia tidak bernafas, sehingga para dokter membungkusnya dengan selimut dan menempatkan di dalam waskom, menunggu saat kematiannya tiba.

Sang ibu memutuskan agar bayinya tidak meninggal kedinginan dan sendirian. Maka ia mengangkat si bayi dan meletakkan bayi Rakhel di dadanya agar mereka dapat saling mengucapkan selamat tinggal.

Namun terjadilah apa yang tidak pernah diharapkan oleh seorang pun. Jantung Rakhel mulai berdenyut secara teratur, ia mulai bernafas dan warnanya berubah dari kelabu menjadi merah muda. Bahkan akhirnya ia mulai menangis. Selamat berkat sebuah pelukan!

Para dokter berkata, bayi itu telah membuktikan dirinya sebagai seorang pejuang dan memberikan perawatan intensif kepadanya, menghubungkannya dengan segala peralatan yang menjadi jalan bagi bayi Rakhel menuju akhir yang bahagia. Orang tuanya teramat bahagia, para dokternya tidak percaya. Sesudah menyelesaikan 4mpat bulan di rumah sakit alih-alih dari yang seharusnya dijalaninya di dalam rahim, keluarganya membawa pulang bayi 3,6 kg (8 pound) itu pulang. Meskipun terdapat sedikit masalah mata dan beberapa akibat lain karena terlahir sedemikian kurang sempurna, ia adalah anak yang sehat dan bahagia.

Baby Rachael’s: Saved by a cuddle! Dari milis sayangihidup grup, kiriman dr. Lia Brasali Ariefano – Domus Cordis.


Penelitian Sel Punca Dewasa

Paus Benediktus XVI mengakui godaan yang dihadapi para ilmuwan yang mencari pengobatan untuk penyakit-penyakit degeneratif, namun beliau berkata bahwa tidak satupun hidup manusia dapat dihancurkan demi manfaat bagi seseorang lain.

Bapa Paus mengatakan hal ini pada hari Sabtu 12 November 2011 ketika memberikan pengarahan kepada sekitar 250 peserta konferensi internasional mengenai Adult Stem Cells: Science and the Future of Man and Culture (Sel Punca Dewasa: Ilmu Pengetahuan dan masa depan manusia dan budaya). Simposium ini diadakan oleh Pontifical Council for Culture bekerja sama dengan US Stem for Life Foundation.

Pertemuan tiga hari tersebut mengkaji penggunaan sel punca dewasa untuk pengobatan dari sudut pandang sains dan implikasi budaya, etis dan antropologisnya. Menurut Bapa Suci, karena kebakaan jiwa manusia, maka “terdapat suatu dimensi keberadaan manusia yang terletak di luar batas-batas yang dapat ditentukan oleh ilmu-ilmu pengetahuan alam.”


The Voice of the Voiceless

‘ORANG YANG HIDUP BERHAK HIDUP KARENA IA SUDAH HIDUP’, demikian motto Romo CB Kusmaryanto, SCJ sebagai salah satu penanggap dalam dialog publik ‘Bila Kehamilan merupakan masalah’, 16 Juli 2011 di Aula Lantai 4 Gereja St. Yoseph Matraman, Jakarta. Dua orang ibu yang hamil di luar nikah memberikan kesaksiannya dalam acara tersebut. Keduanya menunjukkan bahwa peran teman sungguh sangat penting dan besar maknanya. Meskipun hanya satu ibu yang akhirnya dapat menikah dengan ayah dari anak yang dikandungnya. Maka kalau berjumpa dengan wanita yang mengalami kehamilan tak dikehendaki (KTD), janganlah ia ditinggal sendirian. Dampingilah. Begitu pesan Romo Kusmaryanto.

Kedua ibu juga menyatakan, “Saya akan merawat anak (di dalam perut) - ku karena ibuku merawatku.” Menunjukkan bahwa kodrat perempuan adalah ibu kehidupan (dalam Kitab Suci, ‘Hawa’), maka ia ingin memelihara anak itu. Inilah yang disebut kodrat kewanitaan. Menurut penelitian, aborsi banyak dilakukan karena ketidaktahuan. Ketidaktahuan itu menghantarkan kepada keputusan yang salah. Maka gambar-gambar perkembangan janin yang terdapat di dalam buku ‘Bila Kehamilan Bermasalah’ diharapkan menjadi informasi bagi mereka yang belum tahu sehingga seseorang yang ingin aborsi mengurungkan niatnya. Misalnya, pada gambar janin berusia 21 hari terdapat keterangan ‘jantung sudah mulai berdetak’, artinya yaitu ‘ketika seorang perempuan terlambat menstruasi satu minggu’, pada saat itu jantung janinnya sudah mulai berdenyut.


Efek Samping Aborsi

Berkat perkembangan teknologi kedokteran, aborsi dapat lebih “mudah” dilakukan dibandingkan dengan pada waktu yang silam. Meskipun demikian, tindakan yang menyalahi hukum alam ini mau tak mau berisiko meninggalkan efek samping pada wanita yang menggugurkan kandungannya, baik jasmaniah maupun kejiwaan. Selain efek samping yang langsung, seperti perdarahan, infeksi, kemandulan, ada pula efek samping yang baru timbul bertahun-tahun kemudian seperti kanker payudara, sindrom (kejiwaan) pasca aborsi, atau pun eksploitasi wanita .

ABORSI MENINGKATKAN RISIKO KANKER PAYUDARA

Penelitian oleh National Cancer Institute (NCI), sebuah badan penelitian nasional di Amerika Serikat, mempublikasikan hasilnya pada April 2009 mengenai kaitan antara kontrasepsi dan kanker payudara. Di antaranya dikemukakan juga bahwa aborsi meningkatkan risiko kanker payudara pada wanita sebesar 40% di samping kontrasepsi oral yang diperkirakan meningkatkan risiko kanker payudara pada wanita berusia < 45 tahun. Penelitian ini dipimpin oleh Louise Brinon dari NCI. Para kelompok advokasi wanita mempertanyakan, mengapa sampai saat ini para wanita masih belum mendapat informasi tentang hal tersebut.


Subscribe to Mailing List ABORSI.ORG

Powered by us.groups.yahoo.com

Resensi Buku

Bila Kehamilan BermasalahBila Kehamilan Bermasalah


Upcoming events

  • No upcoming events available